17 April 2019 = Runtuh!







GELORA.CO - Pelaksanaan Pemilihan Umum yang jatuh pada tanggal 17 April 2019, tepatnya di hari Rabu Pahing dengan Wuku Wayang, ternyata menunjukkan makna yang sungguh mengejutkan dalam perhitungan orang-orang Jawa di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.

Masyarakat Jawa di Pacitan kerap menghitung kesakralan dari sebuah kegiatan itu melalui hari, pasaran, serta wukunya.

Salah seorang yang kerap dianggap ahli dalam hitung-hitungan Jawa, Martono (70), warga Desa Kembang, Pacitan, mengatakan, hari pelaksanaan Pemilu 2019 itu —berdasarkan rumus Sri, Dadi, Pangkalan, Putul— ternyata masuk pada hitungan Putul atau runtuh karena ada di angka 16.

Maka, ia memaklumi kalau kemudian pelaksanaan Pemilu 2019 itu menelan banyak korban jiwa dengan meninggalnya ratusan petugas KPPS.

“Pelaksanaan Pemilu 2019 masuk di hari yang kurang tepat,” kata Martono saat ditemui kontributor MoeslimChoice di Pacitan, Suluh Apriyanto, di tempat tinggalnya.

Martono kemudian menguraikan dasar-dasarnya melalui perhitungan Jawa yang biasa ia lakukan selama ini.

“Dalam hitungan Jawa, Rabu itu adalah 7, sementara Pahing adalah 9. Jadi, ketemunya di angka 16. Kalau dalam hitungan saya, dengan rumus Sri-Dadi-Pangkalan-Putul, dihitung sebanyak 16 kali, hasilnya adalah Putul atau runtuh,” katanya.

Ia membandingkan dengan hari-hari pelaksanaan Pilpres di masa lalu, yang —dalam hitungannya— selalu jatuh pada hitungan Dadi atau jadi.

"Pak Soeharto dulu hitunganya Dadi. Pak SBY juga hitunganya Dadi. Kalau sekarang, tinggal lihat pada siapa yang menentukan hari dari pemilihan itu," jelasnya.

Terkait dengan wuku dari Pemilu 2019, yang jatuh pada Wuku Wayang, Martono menjelaskan, sistemnya seperti dalam pewayangan. Ada jejer, temu tokoh, dan perang.

"Wayang itu kan awalnya ditata, diceritakan tokoh-tokohnya, kemudian perang. Setelah itu, wayang dimasukkan dalam kotak. Tapi, wayang yang terjadi saat ini tidak seperti itu. Karena masih diebret-ebret atau tidak dimasukkan ke dalam kotak, ya akhirnya perang terus," pungkasnya.

Terpisah, penerjemah hitungan Jawa lainnya melontarkan pernyataan yang hampir senada dengan Martono.

Menurut tokoh yang keberatan disebutkan namanya itu, Pemilu 2019 jatuh pada angka 3, yang menunjukkan kematian. Orang-orang Jawa menyebutnya tebo mayit.

“Kalau dihitung-hitung dengan tetel (alat hitung Jawa), setelah dijumlah, hasilnya itu ternyata angka 3. Angka ini menggambarkan mayat,” singkatnya.

Sayang, tokoh ini keberatan kalau wartawan merekam suara atau mengambil gambarnya. Bahkan, ia pun menyampaikan keberatannya terhadap wartawan yang berniat memotret tetel atau “alat hitung Jawa” tersebut.

Alat hitung-hitungan Jawa Kuno yang terbuat dari kayu berbentuk kotak kecil ini diyakini masyarakat setempat memiliki hitungan yang pas.

Ada hari naas, ada juga hari baik. Tapi, tidak mudah mempelajarinya, kecuali sang ahli, dalam arti mereka yang hafal secara fasih tentang 30 wuku. Begitulah deskripsi dari alat yang dinamai tetel tersebut.

Hingga sekarang, tetel ini masih dipercaya oleh masyarakat Jawa di Pacitan. Mereka masih mempercayakan kepada perhitungan tetel itu bila memiliki niat akan melaksanakan acara pernikahan, mendirikan rumah, bahkan membeli kendaraan.

Semua itu mereka lakukan semata-mata untuk mencari hari baik, sekaligus menghindari kenaasan. [mc]

Banner iklan disini
loading...

Subscribe to receive free email updates: